Tampilkan postingan dengan label Event. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Event. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Juni 2014


KOTA TEGAL - Tegal Pesisir Carnival (TPC) menjadi event kebanggan masyarakat Kota Tegal. Melalui TPC yang menjadi agenda tahunan dalam rangka Hari Jadi Kota Tegal dapat menjadikan Kota Tegal sebagai kota tujuan wisata. Setidaknya di tingkat provinsi, nasional maupun internasional.
Hal tersebut diungkapkan Walikota Tegal Hj. Siti Masitha Soeparno saat membuka Tegal Pesisir Carnival (TPC) 3 Tahun 2014 di Alun-alun Kota Tegal, Sabtu (26/4). Disebutkan Walikota, TPC merupakan event pariwisata yang rutin diselenggarakan setiap tahun dan menjadi bagian dari rangkaian Hari Jadi Kota Tegal.
“TPC diharapkan dapat menjadi event kebanggaan masyarakat Kota Tegal serta menjadikan Kota Tegal sebagai Kota tujuan wisata. Setidaknya harus mencapai skala nasional maupun internasional,” ungkapnya.
Disebutkannya Kota Tegal sebagai kota yang memiliki sumber daya alam wisata yang terbatas, penyelenggaraan event pariwisata nasional bahkan internasional menjadi salah satu strategi jitu untuk memajukan kepariwisataan Kota Tegal. Sehingga selain menghibur dan meningkatkan pendapatan pelaku pariwisata lainnya. Mislanya jasa transportasi, dan meningkatkan pendapatan pedagang kaki lima dan asongan
Apalagi dikatakannya, Kota Tegal merupakan salah satu kota yang konsisten menyelenggarakan karnaval di Jawa Tengah. Disebutkanya, setelah kelilingi di Jawa Tengah, salah satu kota yang ikut memeriahkan festival karnaval yakni Kota Tegal yang dari sekian kota di Provinsi Jawa Tengah.
“Kita tepuk tangan dulu yang meriah untuk para masyarakat, siswa siswi dan semua pekerja seni yang iku berpartisipasi dan khususnya penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh masyarakat Kota Tegal, malam hari ini kita meriahkan semua dengan acara pawai festival karnaval yang dipersembahkan untuk masyarakat Kota Tegal dan sekitarnya dalam rangka Hari Jadi Kota Tegal ke 434,” pintanya bersemangat..
Walikota juga menjelaskan TPC 3 tahun 2014 yang memiliki tema “Kembali Bersahabat dengan Alam”. Maksudnya maksud agar manusia semua ingat bahwa berbagai musibah bencana alam yang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia seperti banjir, tanah longsor, kabut asap, abrasi sebagian besar terjadi akibat perbuatan manusia yang kurang bertanggung jawab dan kurang bersahabat dengan alam.
“Manusia dan semesta alam diciptakan Allah SWT agar bisa selaras dan harmonis, untuk itu bersama dengan kegiatan TPC 3 marilah kita kembali bersahabat dengan alam,” ajak Walikota.
Walikota juga mengajak dengan memulai dari hal-hal kecil di sekitar. Misalnya menjaga kebersihan lingkungan di tempat tinggal, sekolah, tempat berkarya dan mulailah dari diri sendiri. “Apalagi konsep TPC 3 bersahabat dengan alam juga diusung oleh peserta. Peserta karnavakl diwajibkan memakai kostum dari bahan daur ulang,” sebutnya.

Tegal Pesisir Carnival (TPC)

at 21.38  |  No comments


KOTA TEGAL - Tegal Pesisir Carnival (TPC) menjadi event kebanggan masyarakat Kota Tegal. Melalui TPC yang menjadi agenda tahunan dalam rangka Hari Jadi Kota Tegal dapat menjadikan Kota Tegal sebagai kota tujuan wisata. Setidaknya di tingkat provinsi, nasional maupun internasional.
Hal tersebut diungkapkan Walikota Tegal Hj. Siti Masitha Soeparno saat membuka Tegal Pesisir Carnival (TPC) 3 Tahun 2014 di Alun-alun Kota Tegal, Sabtu (26/4). Disebutkan Walikota, TPC merupakan event pariwisata yang rutin diselenggarakan setiap tahun dan menjadi bagian dari rangkaian Hari Jadi Kota Tegal.
“TPC diharapkan dapat menjadi event kebanggaan masyarakat Kota Tegal serta menjadikan Kota Tegal sebagai Kota tujuan wisata. Setidaknya harus mencapai skala nasional maupun internasional,” ungkapnya.
Disebutkannya Kota Tegal sebagai kota yang memiliki sumber daya alam wisata yang terbatas, penyelenggaraan event pariwisata nasional bahkan internasional menjadi salah satu strategi jitu untuk memajukan kepariwisataan Kota Tegal. Sehingga selain menghibur dan meningkatkan pendapatan pelaku pariwisata lainnya. Mislanya jasa transportasi, dan meningkatkan pendapatan pedagang kaki lima dan asongan
Apalagi dikatakannya, Kota Tegal merupakan salah satu kota yang konsisten menyelenggarakan karnaval di Jawa Tengah. Disebutkanya, setelah kelilingi di Jawa Tengah, salah satu kota yang ikut memeriahkan festival karnaval yakni Kota Tegal yang dari sekian kota di Provinsi Jawa Tengah.
“Kita tepuk tangan dulu yang meriah untuk para masyarakat, siswa siswi dan semua pekerja seni yang iku berpartisipasi dan khususnya penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh masyarakat Kota Tegal, malam hari ini kita meriahkan semua dengan acara pawai festival karnaval yang dipersembahkan untuk masyarakat Kota Tegal dan sekitarnya dalam rangka Hari Jadi Kota Tegal ke 434,” pintanya bersemangat..
Walikota juga menjelaskan TPC 3 tahun 2014 yang memiliki tema “Kembali Bersahabat dengan Alam”. Maksudnya maksud agar manusia semua ingat bahwa berbagai musibah bencana alam yang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia seperti banjir, tanah longsor, kabut asap, abrasi sebagian besar terjadi akibat perbuatan manusia yang kurang bertanggung jawab dan kurang bersahabat dengan alam.
“Manusia dan semesta alam diciptakan Allah SWT agar bisa selaras dan harmonis, untuk itu bersama dengan kegiatan TPC 3 marilah kita kembali bersahabat dengan alam,” ajak Walikota.
Walikota juga mengajak dengan memulai dari hal-hal kecil di sekitar. Misalnya menjaga kebersihan lingkungan di tempat tinggal, sekolah, tempat berkarya dan mulailah dari diri sendiri. “Apalagi konsep TPC 3 bersahabat dengan alam juga diusung oleh peserta. Peserta karnavakl diwajibkan memakai kostum dari bahan daur ulang,” sebutnya.

Read More


Metikan diambil dari kata dasar petik. Metikan sendiri merupakan sebuah hiburan atau pesta rakyat yang digelar setiap tahunnya sebelum PG Pangka menjalankan giling tebu memproduksi gula. Sejak jaman kolonial Belanda, acara metikan memang sudah digelar. Setiap menjelang musim giling pabrik gula, diadakan acara selamatan giling yang diiringi oleh hiburan atau pesta rakyat untuk karyawan dan masyarakat sekitaran lokasi pabrik gula.
Hiburan yang disediakan dalam metikan ini antara lain pasar malam yang menjual beraneka ragam kebutuhan sandang, pangan dan papan untuk masyarakat sekitar dan sering dijadikan sebagai ajang bisnis para pengusaha dan pedangan untuk menjual produk mereka. Mulai dari obral pakaian, jajanan khas yang diantaranya banyak pedagang martabak baik martabak manis maupun telur membuka lapak gerobak disepanjang jalan menuju areal metikan, pedagang perabot rumah tangga, mainan anak, komedi putar, biang lala, tong setan, karaoke, rumah hantu, dll. Bahkan sekitar tahun 90-an, pemutaran hiburan film layar tancep masih booming dan paling ditunggu-tunggu di acara metikan. Sekarang ini, hiburan untuk penutupan metikan digantikan oleh wayang kulit, wayang golek, band performance, bahkan organ tunggal.
Biasanya metikan diadakan kurang lebih selama 15 hari pada sekitaran bulan April hingga bulan Mei setiap tahunnya. Dari sini metikan seperti sebuah magnet karena mampu menarik banyak pengunjung dari luar desa, luar kabupaten bahkan luar Kota Tegal. Antusiasme pengunjung yang membludak setiap tahunnya ini yang mempuat panitia metikan menyediakan tempat berupa kapling-kapling yang disewakan sebagai stand pasar malam di sekitaran PG Pangka. Gak ketinggalan juga keamaan yang dipadu dari Aparat Pemerintah maupuan karang taruna seperti Polsek Pangkah, Koramil, Pamong Praja Kecamatan sampai Hansip demi kelancaran dan keamanan acara metikan.
Metikan tidak hanya diselenggarakan di Pangkah, namun juga di Jatibarang, Kabupaten Brebes dengan waktu pelaksanaan yang relatif berurutan. Sebagaimana kita ketahui, di Brebes juga mempunyai pabrikgula, PG Jatibarang, masih erat kaitannya dengan PG Pangka.

Metikan Pangkah

at 21.32  |  No comments



Metikan diambil dari kata dasar petik. Metikan sendiri merupakan sebuah hiburan atau pesta rakyat yang digelar setiap tahunnya sebelum PG Pangka menjalankan giling tebu memproduksi gula. Sejak jaman kolonial Belanda, acara metikan memang sudah digelar. Setiap menjelang musim giling pabrik gula, diadakan acara selamatan giling yang diiringi oleh hiburan atau pesta rakyat untuk karyawan dan masyarakat sekitaran lokasi pabrik gula.
Hiburan yang disediakan dalam metikan ini antara lain pasar malam yang menjual beraneka ragam kebutuhan sandang, pangan dan papan untuk masyarakat sekitar dan sering dijadikan sebagai ajang bisnis para pengusaha dan pedangan untuk menjual produk mereka. Mulai dari obral pakaian, jajanan khas yang diantaranya banyak pedagang martabak baik martabak manis maupun telur membuka lapak gerobak disepanjang jalan menuju areal metikan, pedagang perabot rumah tangga, mainan anak, komedi putar, biang lala, tong setan, karaoke, rumah hantu, dll. Bahkan sekitar tahun 90-an, pemutaran hiburan film layar tancep masih booming dan paling ditunggu-tunggu di acara metikan. Sekarang ini, hiburan untuk penutupan metikan digantikan oleh wayang kulit, wayang golek, band performance, bahkan organ tunggal.
Biasanya metikan diadakan kurang lebih selama 15 hari pada sekitaran bulan April hingga bulan Mei setiap tahunnya. Dari sini metikan seperti sebuah magnet karena mampu menarik banyak pengunjung dari luar desa, luar kabupaten bahkan luar Kota Tegal. Antusiasme pengunjung yang membludak setiap tahunnya ini yang mempuat panitia metikan menyediakan tempat berupa kapling-kapling yang disewakan sebagai stand pasar malam di sekitaran PG Pangka. Gak ketinggalan juga keamaan yang dipadu dari Aparat Pemerintah maupuan karang taruna seperti Polsek Pangkah, Koramil, Pamong Praja Kecamatan sampai Hansip demi kelancaran dan keamanan acara metikan.
Metikan tidak hanya diselenggarakan di Pangkah, namun juga di Jatibarang, Kabupaten Brebes dengan waktu pelaksanaan yang relatif berurutan. Sebagaimana kita ketahui, di Brebes juga mempunyai pabrikgula, PG Jatibarang, masih erat kaitannya dengan PG Pangka.

Read More

Rabu, 04 Juni 2014


Tegal, tak hanya dikenal karena dialek bahasa Jawa, pantai dan kulinernya, tetapi kota dengan julukan Tegal Laka-Laka ini juga dikenal karena budayanya yang unik. Salah satunya yaitu tradisi budaya yang berkaitan dengan penyebaran agama Islam di Tegal. Masyarakat Tegal menyebut tradisi itu dengan “Rebo Wekasan”. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan “Rebo Wekasan” ini? Bagaimana sejarah dari “Rebo Wekasan” itu? Serta apa yang unik dari tradisi ini?
            Rebo Wekasan atau Rebo Pungkasan adalah hari Rabu di minggu terakhir di bulan Safar (dalam bahasa Jawa: Sapar). Masyarakat Jawa percaya bahwa bencana dan mala petaka banyak terjadi pada hari itu. Sehingga mereka perlu melakukan upaya pencegahan agar bencana dan mala petaka ini tidak terjadi pada mereka. Maka pada hari itu masyarakat banyak yang melaksanakan shalat Rebo Wekasan, mandi di sungai, mengunjungi sanak saudara, bahkan membuat serangkaian acara selama seharian yang kemudian ditutup dengan pertunjukkan wayang, dan lain sebagainya.
Setiap daerah memiliki cara dan keunikan masing-masing dalam pada saat Rebo Wekasan ini. Tak terkecuali di Tegal, acara ini pun menjadi sebuah tradisi yang masih dilaksanakan sampai sekarang ini. Masyarakat Tegal banyak yang mempercayai kalau pada hari Rabu terakhir pada bulan Safar ini, akan banyak bencana dan mala petaka. Sehingga banyak dari mereka,  baik itu anak-anak sampai orang dewasa melakukan berbagai upaya untuk terhindar dari bencana dan mala petaka tersebut. Tradisi yang sampai saat ini masih dilaksanakan oleh masyarakat Tegal dalam menghadapi Rebo Wekasan, yaitu tradisi mencukur beberapa helai rambut dan tradisi membuat bubur merah dan putih, yang kemudian dibagikan ke tetangga mereka. Tak ada bukti tertulis mengenai tradisi ini. Kapan tradisi mulai dilaksanakan dan siapa yang memulainya belum ada yang mengetahui. Akan tetapi, tradisi ini seakan sudah menjalar dalam masyarakat dan seakan jika tidak dilaksanakan, bencana dan mala petaka akan datang menimpa mereka.
            Selain tradisi mencukur rambut dan juga membuat bubur, ada juga tradisi unik lain yang dilaksanakan di Tegal selama Rebo Wekasan. Tradisi itu dilaksanakan di dua kecamatan di Tegal, yaitu di Suradadi dan Lebaksiu. Meskipun pada dasarnya sama, yaitu untuk memperingati Rebo Wekasan, tetapi kegiatan yang dilaksanakan berbeda.
            Desa Suradadi, kecamatan Suradadi, kabupaten Tegal, terletak di jalur antara Tegal dan Pemalang, sekitar 17 kilometer timur kota Tegal. Di desa ini, tradisi dalam memperingati Rebo Wekasan dilaksanakan cukup unik. Masyarakat Suradadi pada khususnya, melaksanakan Haul pada saat Rebo Wekasan. Haul diadakan sebagai suatu momentum untuk mengenang kembali para ulama yang telah berjasa dalam menyebarkan agam Islam di daerah tersebut. Banyak pula yang mengatakan terutama di kalangan ulama, budaya Rebo Wekasan di desa Suradadi yang dilaksanakan dalam bentuk Haul adalah sebuah upaya dari para ulama setempat untuk menjadikan Rebo Wekasan lebih bermakna dan memiliki nilai yang lebih bermanfaat bagi masyarakat. Para ulama di desa Suradadi sangat prihatin dengan apa yang dilakukan oleh masyarakat dalam momentum Rebo Wekasan ini. Masyarakat banyak yang menyimpang dari agama berkenaan dengan peringatan Rebo Wekasan. Sehingga para ulama ber-ijtihad untuk mengubah itu, yaitu dengan diadakannya Haul.
            Haul di desa Suradadi dalam rangka Rebo Wekasan, telah dilaksanakan sejak tahun 1961, tepatnya pada tanggal 13 Agustus (27 Safar 1381 H). Biasanya dilaksanakan di pemakaman umum desa, tepatnya di sebelah selatan Masjid Jami Al-Kautsar atau sebelah selatan Pasar Suradadi. Pada saat Haul, masyarakat Suradadi dan sekitarnya akan berkumpul di pemakaman tersebut dan membacakan doa-doa untuk para ulama yang telah meninggal dunia yang tentunya ulama-ulama itu adalah tokoh-tokoh yang telah berjasa dalam penyebaran agama Islam. Setiap tahun, scara Haul tersebut selalu dipenuhi para pengunjung yang jumlahnya bisa mencapai lebih dari 20.000 pengunjung. Adapun yang mengikuti acara tersebut tidak hanya masyakarat Suradadi, tetapi juga oleh masyarakat kabupaten dan kota Tegal yang lain, bahkan banyak pula pengunjung yang berasal dari Pemalang, Brebes, Pekalongan, Batang, Purbalingga, dan Purwokerto. Sehingga tak heran, pada saat pelaksanaanya, jalur Pantura tepatnya di jalan Pasar Suradadi, jalan akan sangat macet, yang disebabkan membludaknya pengunjung yang mengikuti Haul tersebut. Sehingga tidak bisa dipungikiri bahwa tradisi Haul tersebut merupakan media efektif untuk persatuan umat, dakwah Islam, dan tentunya memobilisasi perekonamian umat di Suradadi.
            Selain Haul, hal yang unik dalam peringatan Rebo Wekasan di Suradadi adalah adanya pasar dadakan yang ada sebelum, selama dan setelah Rebo Wekasan. Biasanya pasar ini ada setengah atau satu bulan sebelum hari H. Karena adanya pasar ini juga, keadaan di desa Suradadi menjadi sangat ramai yang disebabkan oleh banyaknya para pedagang serta para pengunjung yang mendatangi pasar dadakan tersebut. Sehingga pasar tersebut seakan menjadi arena bazar gratis bagi masyarakat. Barang yang dijual dalam pasar tersebut berupa segala jenis makananmainan anak-anak, pakaian, sepatu, tas, serta kebutuhan-kebutuhan yang lain. Sehingga pasar ini seakan tidak bedanya dari  pasar malam yang mengundang keramaian. Pedagang pun datang dari berbagai kota. Karena terdapat sebuah kepercayaan bahwa setelah berdagang pada acara Rebo Wekasan, dagangan mereka akan bertambah laris pada hari berikutnya. Ini menjadi sebuah tradisi budaya yang selalu ditunggu oleh masyarakat Suradadi, karena dapat dilihat dari betapa eksisnya tradisi ini hingga saat ini.
            Berbeda di Suradadi, berbeda pula peringatan Rebo Wekasan di Lebaksiu. Lebaksiu adalah salah satu kecamatan yang ada di kabupaten Tegal, yang terletak di jalur Tegal-Guci. Konon, berdasarkan cerita yang telah menyebar di masyarakat Lebaksiu bahwa peringatan Rebo Wekasan ini adalah untuk mengenang jejak Mbah Panggung, tokoh yang berjasa dalam penyebaran agama Islam di wilayah tersebut. Akan tetapi, tidak ada sumber yang menyebutkan dengan jelas tentang sejarah dari peringatan Rebo Wekasan di Lebaksiu. Sehingga cerita Mbah Panggun-lah yang dianggap paling benar. Makam Mbah Panggung berada di puncak Bukit Sitanjung, dimana bukit ini terletak diantara dataran-dataran tinggi yang ada di Lebaksiu. Oleh karena itu, pusat acara Rebo Wekasan di Lebaksiu berada disekitar bukit tersebut, bahkan mencapai pinggir-pinggir jalan raya.
            Jika di Suradadi Rebo Wekasan ini lebih dominan dengan acara agama dalam hal ini Haul, Rebo Wekasan di Lebaksiu didominasi dengan kegiatan jual-beli para pedagang yang hanya ada selama Rebo Wekasan. Biasanya para pedagang ini sudah membuka lapaknya setengah bulan sebelum hari H, sampai seminggu setelah hari H. Lapak yang ada pun bisa mencapai kiloan meter dari Bukit Sitanjung. Mulai dari makanan, baju, sepatu, tas, mainan anak-anak, aksesoris, lengkap ada di situ. Tidak hanya pedagangnya yang jumlahnya tak terhitung, pengunjung yang datang pun jumlahnya membludak. Ribuan orang datang hanya sekedar untuk berkeliling untuk melihat-lihat dagangan, atau jalan-jalan menaiki bukit untuk menikmati pemandangan Bukit Sitanjung. Meskipun ada juga yang sengaja datang untuk berziarah ke makam Mbah Panggung.
            Di masyarakat Lebaksiu, ada sebuah mitos tentang Rebo Wekasan. Setiap tahun, tepatnya ketika Rebo Wekasan, pasti akan ada pengunjung yang meninggal, karena dijadikan tumbal. Terlepas benar apa tidak, tetapi memang ketika Rebo Wekasan, ada saja pengunjung yang meninggal. Ada yang hanyut di sungai, ada yang terjatuh, ada yang hilang, dan lain-lain.
            Meskipun begitu, Rebo Wekasan tetap menjadi sebuah event yang ditunggu oleh masyarakat Lebaksiu. Daya tarik utama dari peringatan Rebo Wekasan ini adalah para pedagang yang datang dari berbagai kota yang membuka lapaknya di sekitar Bukit Sitanjung. Sehingga dapat dilihat, betapa cepatnya mobilasasi ekonomi masyarakat Lebaksiu pada saat peringatan Rebo Wekasan.

            Itu adalah salah satu tradisi yang ada di kabupaten Tegal yang berkenaan dengan Rebo Wekasan. Melihat antusiasme para pengunjung, masyarakat Tegal seakan selalu menanti event ini. Bagaimana? Apakah Anda merasa penasaran? Silahkan datang ke Tegal setiap hari Rabu terakhir di bulan Safar. Dan Anda akan merasakan betapa uniknya tradisi ini.

Rebo Wekasan

at 21.27  |  No comments


Tegal, tak hanya dikenal karena dialek bahasa Jawa, pantai dan kulinernya, tetapi kota dengan julukan Tegal Laka-Laka ini juga dikenal karena budayanya yang unik. Salah satunya yaitu tradisi budaya yang berkaitan dengan penyebaran agama Islam di Tegal. Masyarakat Tegal menyebut tradisi itu dengan “Rebo Wekasan”. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan “Rebo Wekasan” ini? Bagaimana sejarah dari “Rebo Wekasan” itu? Serta apa yang unik dari tradisi ini?
            Rebo Wekasan atau Rebo Pungkasan adalah hari Rabu di minggu terakhir di bulan Safar (dalam bahasa Jawa: Sapar). Masyarakat Jawa percaya bahwa bencana dan mala petaka banyak terjadi pada hari itu. Sehingga mereka perlu melakukan upaya pencegahan agar bencana dan mala petaka ini tidak terjadi pada mereka. Maka pada hari itu masyarakat banyak yang melaksanakan shalat Rebo Wekasan, mandi di sungai, mengunjungi sanak saudara, bahkan membuat serangkaian acara selama seharian yang kemudian ditutup dengan pertunjukkan wayang, dan lain sebagainya.
Setiap daerah memiliki cara dan keunikan masing-masing dalam pada saat Rebo Wekasan ini. Tak terkecuali di Tegal, acara ini pun menjadi sebuah tradisi yang masih dilaksanakan sampai sekarang ini. Masyarakat Tegal banyak yang mempercayai kalau pada hari Rabu terakhir pada bulan Safar ini, akan banyak bencana dan mala petaka. Sehingga banyak dari mereka,  baik itu anak-anak sampai orang dewasa melakukan berbagai upaya untuk terhindar dari bencana dan mala petaka tersebut. Tradisi yang sampai saat ini masih dilaksanakan oleh masyarakat Tegal dalam menghadapi Rebo Wekasan, yaitu tradisi mencukur beberapa helai rambut dan tradisi membuat bubur merah dan putih, yang kemudian dibagikan ke tetangga mereka. Tak ada bukti tertulis mengenai tradisi ini. Kapan tradisi mulai dilaksanakan dan siapa yang memulainya belum ada yang mengetahui. Akan tetapi, tradisi ini seakan sudah menjalar dalam masyarakat dan seakan jika tidak dilaksanakan, bencana dan mala petaka akan datang menimpa mereka.
            Selain tradisi mencukur rambut dan juga membuat bubur, ada juga tradisi unik lain yang dilaksanakan di Tegal selama Rebo Wekasan. Tradisi itu dilaksanakan di dua kecamatan di Tegal, yaitu di Suradadi dan Lebaksiu. Meskipun pada dasarnya sama, yaitu untuk memperingati Rebo Wekasan, tetapi kegiatan yang dilaksanakan berbeda.
            Desa Suradadi, kecamatan Suradadi, kabupaten Tegal, terletak di jalur antara Tegal dan Pemalang, sekitar 17 kilometer timur kota Tegal. Di desa ini, tradisi dalam memperingati Rebo Wekasan dilaksanakan cukup unik. Masyarakat Suradadi pada khususnya, melaksanakan Haul pada saat Rebo Wekasan. Haul diadakan sebagai suatu momentum untuk mengenang kembali para ulama yang telah berjasa dalam menyebarkan agam Islam di daerah tersebut. Banyak pula yang mengatakan terutama di kalangan ulama, budaya Rebo Wekasan di desa Suradadi yang dilaksanakan dalam bentuk Haul adalah sebuah upaya dari para ulama setempat untuk menjadikan Rebo Wekasan lebih bermakna dan memiliki nilai yang lebih bermanfaat bagi masyarakat. Para ulama di desa Suradadi sangat prihatin dengan apa yang dilakukan oleh masyarakat dalam momentum Rebo Wekasan ini. Masyarakat banyak yang menyimpang dari agama berkenaan dengan peringatan Rebo Wekasan. Sehingga para ulama ber-ijtihad untuk mengubah itu, yaitu dengan diadakannya Haul.
            Haul di desa Suradadi dalam rangka Rebo Wekasan, telah dilaksanakan sejak tahun 1961, tepatnya pada tanggal 13 Agustus (27 Safar 1381 H). Biasanya dilaksanakan di pemakaman umum desa, tepatnya di sebelah selatan Masjid Jami Al-Kautsar atau sebelah selatan Pasar Suradadi. Pada saat Haul, masyarakat Suradadi dan sekitarnya akan berkumpul di pemakaman tersebut dan membacakan doa-doa untuk para ulama yang telah meninggal dunia yang tentunya ulama-ulama itu adalah tokoh-tokoh yang telah berjasa dalam penyebaran agama Islam. Setiap tahun, scara Haul tersebut selalu dipenuhi para pengunjung yang jumlahnya bisa mencapai lebih dari 20.000 pengunjung. Adapun yang mengikuti acara tersebut tidak hanya masyakarat Suradadi, tetapi juga oleh masyarakat kabupaten dan kota Tegal yang lain, bahkan banyak pula pengunjung yang berasal dari Pemalang, Brebes, Pekalongan, Batang, Purbalingga, dan Purwokerto. Sehingga tak heran, pada saat pelaksanaanya, jalur Pantura tepatnya di jalan Pasar Suradadi, jalan akan sangat macet, yang disebabkan membludaknya pengunjung yang mengikuti Haul tersebut. Sehingga tidak bisa dipungikiri bahwa tradisi Haul tersebut merupakan media efektif untuk persatuan umat, dakwah Islam, dan tentunya memobilisasi perekonamian umat di Suradadi.
            Selain Haul, hal yang unik dalam peringatan Rebo Wekasan di Suradadi adalah adanya pasar dadakan yang ada sebelum, selama dan setelah Rebo Wekasan. Biasanya pasar ini ada setengah atau satu bulan sebelum hari H. Karena adanya pasar ini juga, keadaan di desa Suradadi menjadi sangat ramai yang disebabkan oleh banyaknya para pedagang serta para pengunjung yang mendatangi pasar dadakan tersebut. Sehingga pasar tersebut seakan menjadi arena bazar gratis bagi masyarakat. Barang yang dijual dalam pasar tersebut berupa segala jenis makananmainan anak-anak, pakaian, sepatu, tas, serta kebutuhan-kebutuhan yang lain. Sehingga pasar ini seakan tidak bedanya dari  pasar malam yang mengundang keramaian. Pedagang pun datang dari berbagai kota. Karena terdapat sebuah kepercayaan bahwa setelah berdagang pada acara Rebo Wekasan, dagangan mereka akan bertambah laris pada hari berikutnya. Ini menjadi sebuah tradisi budaya yang selalu ditunggu oleh masyarakat Suradadi, karena dapat dilihat dari betapa eksisnya tradisi ini hingga saat ini.
            Berbeda di Suradadi, berbeda pula peringatan Rebo Wekasan di Lebaksiu. Lebaksiu adalah salah satu kecamatan yang ada di kabupaten Tegal, yang terletak di jalur Tegal-Guci. Konon, berdasarkan cerita yang telah menyebar di masyarakat Lebaksiu bahwa peringatan Rebo Wekasan ini adalah untuk mengenang jejak Mbah Panggung, tokoh yang berjasa dalam penyebaran agama Islam di wilayah tersebut. Akan tetapi, tidak ada sumber yang menyebutkan dengan jelas tentang sejarah dari peringatan Rebo Wekasan di Lebaksiu. Sehingga cerita Mbah Panggun-lah yang dianggap paling benar. Makam Mbah Panggung berada di puncak Bukit Sitanjung, dimana bukit ini terletak diantara dataran-dataran tinggi yang ada di Lebaksiu. Oleh karena itu, pusat acara Rebo Wekasan di Lebaksiu berada disekitar bukit tersebut, bahkan mencapai pinggir-pinggir jalan raya.
            Jika di Suradadi Rebo Wekasan ini lebih dominan dengan acara agama dalam hal ini Haul, Rebo Wekasan di Lebaksiu didominasi dengan kegiatan jual-beli para pedagang yang hanya ada selama Rebo Wekasan. Biasanya para pedagang ini sudah membuka lapaknya setengah bulan sebelum hari H, sampai seminggu setelah hari H. Lapak yang ada pun bisa mencapai kiloan meter dari Bukit Sitanjung. Mulai dari makanan, baju, sepatu, tas, mainan anak-anak, aksesoris, lengkap ada di situ. Tidak hanya pedagangnya yang jumlahnya tak terhitung, pengunjung yang datang pun jumlahnya membludak. Ribuan orang datang hanya sekedar untuk berkeliling untuk melihat-lihat dagangan, atau jalan-jalan menaiki bukit untuk menikmati pemandangan Bukit Sitanjung. Meskipun ada juga yang sengaja datang untuk berziarah ke makam Mbah Panggung.
            Di masyarakat Lebaksiu, ada sebuah mitos tentang Rebo Wekasan. Setiap tahun, tepatnya ketika Rebo Wekasan, pasti akan ada pengunjung yang meninggal, karena dijadikan tumbal. Terlepas benar apa tidak, tetapi memang ketika Rebo Wekasan, ada saja pengunjung yang meninggal. Ada yang hanyut di sungai, ada yang terjatuh, ada yang hilang, dan lain-lain.
            Meskipun begitu, Rebo Wekasan tetap menjadi sebuah event yang ditunggu oleh masyarakat Lebaksiu. Daya tarik utama dari peringatan Rebo Wekasan ini adalah para pedagang yang datang dari berbagai kota yang membuka lapaknya di sekitar Bukit Sitanjung. Sehingga dapat dilihat, betapa cepatnya mobilasasi ekonomi masyarakat Lebaksiu pada saat peringatan Rebo Wekasan.

            Itu adalah salah satu tradisi yang ada di kabupaten Tegal yang berkenaan dengan Rebo Wekasan. Melihat antusiasme para pengunjung, masyarakat Tegal seakan selalu menanti event ini. Bagaimana? Apakah Anda merasa penasaran? Silahkan datang ke Tegal setiap hari Rabu terakhir di bulan Safar. Dan Anda akan merasakan betapa uniknya tradisi ini.

Read More

    Popular Posts

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Copyright © 2014 Tegal Moncer. Design by Bloggerthemes
Powered by Blogger.